FYP News – Gejolak tajam di pasar modal Indonesia pada akhir Januari 2026 memicu reaksi keras dari pucuk pemerintahan. Presiden Prabowo Subianto disebut sangat marah atas anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang dipicu oleh peringatan dari lembaga penyedia indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI), sehingga menyeret sentimen investor domestik dan internasional.
Menurut Hashim Djojohadikusumo, Utusan Khusus Presiden untuk Energi dan Lingkungan sekaligus adik kandung Presiden, kemarahan itu menjadi latar krisis internal yang belum pernah terjadi: pengunduran diri Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Iman Rachman, beserta empat pejabat puncak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada akhir Januari.
“Beliau sangat marah dengan apa yang terjadi minggu lalu, terutama karena kehormatan negara dipertaruhkan,” ungkap Hashim, menekankan rasa tanggung jawab pemerintahan terhadap kredibilitas pasar modal nasional.
Penyebab Anjloknya Pasar Modal
Menurut laporan resmi, IHSG sempat tertekan secara signifikan setelah MSCI mengirim peringatan berulang kepada pemerintah Indonesia terkait isu transparansi data kepemilikan saham dan standar keterbukaan informasi pasar. Dampaknya, indeks jatuh dan memicu perdagangan dihentikan sementara (trading halt) selama dua sesi perdagangan berturut-turut.
Kondisi itu tidak hanya menekan harga saham, tetapi juga membebani kepercayaan investor ritel yang kemudian meluas menjadi tekanan psikologis bagi pelaku pasar secara keseluruhan.
Pejabat BEI–OJK Mundur Setelah “Arahan Presiden”
Hashim menegaskan bahwa langkah mundurnya para pemimpin BEI dan OJK bukan sekadar keputusan pribadi, tetapi dilakukan setelah ada permintaan langsung dari Presiden Prabowo, sebagai bentuk pertanggungjawaban terhadap kondisi pasar yang dinilai tidak kredibel.
Ia menyebut bahwa pemerintah akan terus mengawasi kinerja manajemen bursa dan otoritas pasar modal demi melindungi investor, termasuk investor ritel, yang menjadi salah satu pihak yang paling dirugikan oleh gejolak tersebut.
“Membersihkan Telur Busuk”: Sinyal Reformasi Ekonomi
Hashim bahkan menyatakan pemerintah tengah melakukan apa yang disebutnya sebagai pembersihan “telur-telur busuk” dalam birokrasi dan sektor ekonomi yang dinilai menghambat pertumbuhan dan kredibilitas Indonesia di mata dunia. Ia menegaskan bahwa akan ada pejabat yang diperiksa dan bahkan dicopot, serta kemungkinan denda besar dijatuhkan kepada pihak yang terlibat dalam praktik tidak sehat di pasar modal.
Menurut Hashim, upaya ini menjadi bagian dari komitmen pemerintahan untuk menindak oknum yang terlibat praktik yang merugikan investor dan menodai integritas pasar finansial nasional.
Implikasi Terhadap Kepercayaan Investor
Anjloknya IHSG bukan hanya soal angka statistik. Pasar modal Indonesia kini menghadapi tekanan besar dari berbagai lembaga internasional lantaran ketidakpastian kebijakan dan standar transparansi yang dipertanyakan. Hal ini ikut mempengaruhi persepsi global terhadap daya tarik investasi di Indonesia, terutama setelah lembaga kredit global juga menurunkan outlook Indonesia baru-baru ini.
Pemerintah pun berada di persimpangan: menjaga stabilitas pasar modal, sambil menegaskan kembali komitmen terhadap reformasi keuangan dan tata kelola yang lebih kuat.