FYP NEWS – Keteguhan prinsip dan integritas menjadi ciri utama sosok Hoegeng Imam Santoso dalam menjalankan tugas sebagai aparat penegak hukum. Di tengah maraknya praktik korupsi dan suap pada masanya, ia justru tampil sebagai figur langka ,seorang perwira yang tidak dapat dibeli dengan materi apa pun.
Peristiwa itu terjadi saat Hoegeng bertugas di Medan pada pertengahan 1950-an. Situasi penegakan hukum ketika itu telah terkontaminasi oleh kepentingan para bandar judi dan penyelundup. Setibanya di wilayah tersebut melalui Pelabuhan Belawan, ia langsung menjadi sasaran pendekatan dari pihak-pihak yang ingin mempertahankan praktik ilegal mereka.
Upaya suap dilakukan secara halus namun sistematis. Tanpa sepengetahuan Hoegeng, rumah dinas yang akan ia tempati telah dipenuhi berbagai perabotan mewah ,mulai dari kulkas, sofa mahal, hingga alat musik seperti piano, yang pada masa itu tergolong barang langka dan bernilai tinggi.
Alih-alih merasa diuntungkan, Hoegeng justru menunjukkan sikap sebaliknya. Ia memahami bahwa seluruh barang tersebut merupakan bentuk suap yang bertujuan melemahkan integritasnya sebagai penegak hukum. Tanpa ragu, ia memerintahkan agar semua perabotan itu segera dikeluarkan dari rumah dinasnya.
Ketika tidak ada pihak yang mengambil kembali barang-barang tersebut, Hoegeng mengambil langkah yang lebih tegas. Ia memerintahkan agar seluruh perabotan mewah itu diangkut dan dibuang ke pinggir jalan. Tindakan ini bukan sekadar penolakan, melainkan pernyataan terbuka: hukum tidak bisa dibeli.
Pesan itu tersampaikan dengan jelas. Setelah peristiwa tersebut, Hoegeng dikenal semakin gencar menertibkan praktik perjudian dan penyelundupan yang sebelumnya sulit disentuh. Ia tidak hanya menolak suap, tetapi juga menegakkan hukum tanpa kompromi.
Reputasi kejujuran Hoegeng terus melekat hingga ia menjabat sebagai Kepala Kepolisian Republik Indonesia pada periode 1968 hingga 1971. Dalam posisi tertinggi itu pun, ia tetap mempertahankan gaya hidup sederhana dan tidak pernah memanfaatkan jabatan untuk kepentingan pribadi.
Keteladanannya bahkan diakui luas. Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid pernah melontarkan sindiran tajam tentang kondisi aparat penegak hukum: bahwa hanya ada tiga polisi jujur ,polisi tidur, patung polisi, dan Hoegeng. Pernyataan itu mempertegas posisi Hoegeng sebagai simbol langka kejujuran di institusi kepolisian.
Kisah pembuangan perabotan mewah itu bukan sekadar cerita masa lalu. Ia adalah pengingat bahwa integritas menuntut keberanian-keberanian untuk menolak kenyamanan yang tidak halal, dan keberanian untuk berdiri tegak di tengah tekanan kekuasaan.
Dalam diri Hoegeng, prinsip itu hidup dan dijalankan tanpa kompromi. Dan hingga hari ini, keteladanan itu tetap relevan,bahkan semakin dibutuhkan.