Hari itu, Madinah tidak seperti biasanya.
Udara terasa berat, langit seolah menahan cahaya, dan kegelisahan merambat dari rumah ke rumah tanpa perlu kata. Umat Islam merasakan sesuatu yang tak mampu mereka jelaskan ,sebuah firasat bahwa perpisahan terbesar dalam sejarah kemanusiaan sedang mendekat.
Di sebuah kamar sederhana, manusia paling mulia yang pernah berjalan di muka bumi, Muhammad ﷺ, terbaring dalam sakitnya.
Beliau bukan sekadar pemimpin.
Beliau adalah cahaya peradaban.
Dan dunia sedang bersiap kehilangan sosok itu.
Sakit yang Menjadi Isyarat Perpisahan
Beberapa hari sebelum wafat, Rasulullah ﷺ mengalami demam tinggi yang sangat berat. Tubuh beliau panas, namun hati dan pikirannya tetap tertuju pada umatnya.
Istri beliau, Aisyah radhiyallahu ‘anha, berkata:
“Aku tidak pernah melihat seseorang yang sakitnya lebih berat daripada sakit Rasulullah.”
(HR. Bukhari)
Dalam kondisi lemah, beliau tetap berusaha keluar menuju masjid, dipapah oleh Ali bin Abi Thalib dan Al-Fadhl bin Abbas. Para sahabat yang melihat langkah beliau yang tak lagi kuat langsung menangis. Mereka sadar ,waktu kebersamaan itu tidak akan lama lagi.
Di atas mimbar, dengan suara yang mulai melemah, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Seorang hamba diberi pilihan oleh Allah antara dunia dan apa yang ada di sisi-Nya, maka ia memilih apa yang ada di sisi Allah.”
Semua sahabat terdiam.
Namun satu orang langsung menangis tersedu.
Dia adalah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu.
Ia memahami ,hamba yang dimaksud adalah Rasulullah ﷺ sendiri.
Detik-Detik Terakhir di Pangkuan Cinta
Hari Senin pagi, 12 Rabi‘ul Awwal.
Rasulullah ﷺ berada di rumah Aisyah. Kepala beliau terasa sangat berat. Nafas mulai pendek. Bibir beliau berulang kali berdoa:
“Allahumma a‘in-ni ‘ala sakaratil maut…”
“Ya Allah, tolonglah aku menghadapi sakaratul maut.”
Di tengah rasa sakit yang luar biasa, beliau masih meminta siwak. Setelah dilembutkan oleh Aisyah, beliau membersihkan giginya dengan perlahan—sebuah sunnah yang tetap dijaga hingga akhir hayat.
Kemudian beliau menengadahkan pandangan ke langit.
Bibirnya bergerak pelan.
“Bersama para nabi… para shiddiqin… para syuhada… dan orang-orang saleh…”
Lalu kalimat terakhir itu terucap—kalimat yang mengguncang langit dan bumi:
“Allahumma fir rafîqil a‘la…”
“Ya Allah, (aku memilih) Ar-Rafiq Al-A‘la.”
Dan…
nafas itu pun berhenti.
Kepala Rasulullah ﷺ terkulai di pangkuan Aisyah.
Manusia paling mulia telah kembali kepada Rabb-nya.
Madinah Bergetar oleh Duka
Tangisan pecah di seluruh Madinah.
Sahabat besar Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu tidak sanggup menerima kenyataan. Dengan pedang terhunus ia berkata:
“Barang siapa mengatakan Muhammad telah wafat, akan kupenggal lehernya!”
Itu bukan penolakan terhadap kematian.
Itu adalah cinta yang terlalu besar untuk menerima kehilangan.
Lalu Abu Bakar datang. Ia masuk ke kamar, menyingkap wajah Rasulullah ﷺ, mencium kening beliau, dan berkata dengan suara bergetar:
“Engkau tetap indah dalam hidup dan dalam wafatmu, wahai Rasulullah…”
Kemudian ia keluar menemui umat dan berkata:
“Barang siapa menyembah Muhammad, maka Muhammad telah wafat.
Barang siapa menyembah Allah, maka Allah Maha Hidup dan tidak akan pernah mati.”
Ia lalu membaca firman Allah:
“Muhammad hanyalah seorang rasul. Sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa rasul…”
(QS. Ali ‘Imran: 144)
Saat itu, barulah para sahabat tersadar.
Rasulullah ﷺ benar-benar telah wafat.
Warisan yang Tidak Pernah Mati
Rasulullah ﷺ tidak meninggalkan istana.
Tidak mewariskan kekayaan.
Tidak membangun monumen megah.
Beliau hanya meninggalkan:
Shalat.
Al-Qur’an.
Sunnah.
Dan jalan menuju surga.
Bahkan di detik-detik terakhir, pesan beliau bukan tentang dirinya ,tetapi tentang umatnya:
“Ash-shalāh… ash-shalāh… wa mā malakat aimānukum…”
“Jagalah shalat… jagalah shalat…”
Beliau pergi…
tetapi akhlaknya tetap hidup.
Lisannya terdiam…
namun ajarannya terus berbicara.
Dan hingga hari ini, setiap shalawat yang diucapkan, setiap air mata yang jatuh karena merindukannya, adalah bukti bahwa cinta itu belum pernah mati.
Allahumma shalli ‘ala Muhammad…
Kami belum pernah melihatmu,
tetapi kami mencintaimu, wahai Rasulullah ﷺ. 🤍🥺