FYP NEWS – Peringatan 100 tahun Nahdlatul Ulama (NU) menjadi momentum bersejarah yang menegaskan peran organisasi keagamaan terbesar di Indonesia itu sebagai salah satu pilar utama kebesaran bangsa. Selama satu abad perjalanan, NU tidak hanya menjaga ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah, tetapi juga berdiri tegak sebagai benteng persatuan, kebangsaan, dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dalam refleksi satu abad NU, doa dan harapan mengalir dari berbagai elemen bangsa. Salah satunya disampaikan dengan penuh khidmat: “Pak Imam, aamiin. Terima kasih.” Sebuah ungkapan sederhana namun sarat makna, yang mencerminkan penghormatan terhadap peran ulama, kiai, dan seluruh keluarga besar NU dalam menjaga arah moral dan spiritual bangsa.
Sejak berdiri pada 1926, NU telah menempatkan diri bukan hanya sebagai organisasi keagamaan, tetapi juga sebagai penjaga harmoni sosial dan penopang stabilitas nasional. Dari masa penjajahan, era kemerdekaan, hingga tantangan global modern, NU konsisten berada di garis depan dalam mempertahankan nilai keislaman yang moderat, toleran, dan berakar kuat pada budaya Nusantara.
Di tengah dinamika politik dan perubahan global yang cepat, NU tetap menjadi jangkar moral bagi kehidupan berbangsa. Komitmennya terhadap Pancasila, UUD 1945, dan NKRI menjadikan NU mitra strategis negara dalam merawat persatuan serta mencegah polarisasi ekstrem di tengah masyarakat.
lPeringatan satu abad NU juga beririsan dengan semangat kepemimpinan nasional saat ini. Di bawah kepemimpinan Presiden RI Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, peran organisasi keagamaan seperti NU dipandang semakin penting sebagai mitra negara dalam menjaga stabilitas, ketahanan sosial, dan arah pembangunan yang berkeadilan.
NU telah membuktikan bahwa kekuatan bangsa tidak hanya bertumpu pada ekonomi dan militer, tetapi juga pada kekuatan nilai, akhlak, dan kebijaksanaan kolektif. Dari pesantren-pesantren hingga ruang kebijakan nasional, NU hadir sebagai penyeimbang,menjaga agar kemajuan tidak tercerabut dari akar kemanusiaan.
Memasuki abad kedua, NU diharapkan terus menjadi tiang penyangga Indonesia, menjaga iman umat, merawat persatuan, dan menuntun bangsa menghadapi masa depan dengan hikmah. Seratus tahun adalah sejarah. Abad berikutnya adalah tanggung jawab.