BANTUL, DI YOGYAKARTA — Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes Merah Putih) dipastikan akan mengambil peran strategis dalam proyek nasional “gentengisasi” yang digagas Presiden Prabowo Subianto. Proyek ini memanfaatkan teknologi inovatif yang mengolah limbah batu bara menjadi bahan campuran genteng tanah liat, menghasilkan genteng yang lebih kuat, lebih ringan, dan lebih terjangkau.
Menteri Koperasi dan UKM, Ferry Juliantono, menyampaikan bahwa teknologi tersebut membuka peluang besar bagi produksi genteng berbasis koperasi di seluruh daerah Indonesia.
“Dengan sedikit campuran dari sisa batu bara, genteng bisa menjadi lebih ringan dan lebih kuat. Semua daerah punya tanah liat, sehingga potensi produksi bisa merata dan tidak terpusat,” ujar Ferry saat menghadiri agenda di Jogja Expo Center (JEC), Bantul, DI Yogyakarta.
Teknologi Tepat Guna, Harga Terjangkau, Produksi Merata
Proyek gentengisasi ini tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga pada penguatan ekonomi kerakyatan. Melalui Kopdes Merah Putih, produksi genteng dirancang berbasis lokal, memanfaatkan sumber daya alam setempat dan melibatkan masyarakat desa secara langsung.
Teknologi pencampuran limbah batu bara:
Meningkatkan kekuatan genteng
Mengurangi bobot material
Menekan biaya produksi
Memungkinkan harga jual lebih terjangkau
Model ini dinilai mampu menciptakan rantai nilai ekonomi baru di desa, sekaligus memperluas peran koperasi sebagai tulang punggung ekonomi nasional.
Misi Lingkungan: Limbah Jadi Nilai Tambah
Ferry Juliantono menegaskan, perhatian Presiden Prabowo terhadap proyek gentengisasi tidak lepas dari agenda lingkungan dan pengelolaan limbah. Limbah yang selama ini berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) kini diarahkan untuk diolah menjadi produk bernilai guna.
“Ini bukan hanya soal atap rumah, tapi soal kebersihan dan keberlanjutan. Limbah tidak lagi dibuang, melainkan dimanfaatkan menjadi bahan bangunan yang berguna dan bernilai ekonomi,” jelas Ferry.
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular, di mana limbah industri diolah kembali menjadi produk baru yang bermanfaat bagi masyarakat.
Genteng vs Seng: Kualitas Hunian Jadi Fokus
Selain aspek ekonomi dan lingkungan, proyek gentengisasi juga menyasar peningkatan kualitas hunian rakyat. Ferry menyoroti masih banyak rumah di Indonesia yang menggunakan atap seng, yang dikenal panas, bising, dan rentan karat.
“Banyak rumah masih memakai seng yang panas dan mudah berkarat. Genteng produksi Kopdes Merah Putih bisa membuat rumah lebih teduh, lebih nyaman, dan lebih sehat untuk ditinggali,” tambahnya.
Genteng berbasis tanah liat dengan teknologi baru ini dinilai mampu:
Menurunkan suhu dalam rumah
Meningkatkan kenyamanan hunian
Memperbaiki estetika permukiman
Proyek Multi-Manfaat: Ekonomi, Lingkungan, dan Sosial
Dengan menggabungkan inovasi teknologi, keberlanjutan lingkungan, dan pemberdayaan koperasi, proyek gentengisasi digadang-gadang menjadi salah satu program pembangunan berbasis rakyat paling konkret di era pemerintahan Presiden Prabowo.
Manfaat yang diharapkan:
Rumah rakyat lebih kuat dan nyaman
Harga material bangunan lebih terjangkau
Limbah batu bara berkurang signifikan
Lapangan kerja lokal tumbuh
Koperasi desa naik kelas sebagai produsen
Gentengisasi sebagai Simbol Arah Baru Pembangunan
Proyek gentengisasi bukan sekadar mengganti atap rumah, tetapi mencerminkan arah baru pembangunan nasional: teknologi untuk rakyat, lingkungan untuk masa depan, dan koperasi sebagai motor ekonomi.
Dengan Kopdes Merah Putih di garis depan, program ini diharapkan menjadi contoh nyata bahwa pembangunan berkelanjutan tidak harus mahal, tidak harus tersentralisasi, dan tidak harus meninggalkan desa.